Kamis, 10 November 2011

Veteran Hanya Dihargai di Hari Pahlawan



Dengan susah payah merebut kemerdekaan berbanding terbalik dengan kesejahteraan para Veteran yang jauh api dari panggang. Bahkan jerih payah mereka hanya dihargai dengan gaji pensiun yang tidak mencapai angka Rp 1 juta per bulan

Rivaldo Rizal, Tobelo :
          Perhatian pemerintah kepada para pahlawan yang merebut kemerdaan mungkin boleh katakan miris. Sebab setelah setengah abad Negera Republik Indonesia (NKRI) diproklamirkan masih ada saja keluhan yang keluar dari mulut para Veteran termasuk mereka yang ada di Halut.
   Perhatian yang diberikan pemerintah kepada para Veteran hanya tampak pada saat momen-momen tertentu yang ada kaitannya dengan perjuangan diantaranya 10 November peringatan hari Pahlawan. Pasalnya di momen-momen seperti itu seluruh Veteran termasuk angkatan 45 hadir mengisi upacara bersama para petinggi yang ada di daerah.
      Yahya Patti (86) misalnya Ketua  Veteran Kabupaten Halut mengatakan, setelah berjuang dengan suar keringat meraih kemerdekaan gaji pensiunnya tidak seberapa bahkan tidak sampai Rp 1 jutaan. Untuk mengurus gaji pensiun diawal-awal pun repot karena segala tahapan administrasi harus dilalui.
   Menurut dia, walaupun kurang diperhatikan tapi harapan besar untuk mengawal kesejahteraan masyarakat yang ada di pundak para petinggi pemerintah dapat terus dijaga. Sebab hasil pengorbanan dari pada pahlawan dan perjuangan kekinian hanya dengan menjalankan pembangunan yang mengarah pada kesejahteraan.
   "Kita tidak berharap banyak yang penting para pengambil kebijakan bisa lebih bijak dalam mengawal semangat pahlawan demi kesejahteraan masyarakat dimasa sekarang dan akan datang," tegas dia.
    Yahya yang mengaku pada perjuangan awal di tahun 1935 tergabung dalam Badan Kemakmuran Rakyat (BKR) di Loloda Utara yang digagas ayahandanya Awat Patti. Saat itu dia sebagai pimpinan pasukan pemuda sejumlah 150 personil sempat melakukan perlawanan dengan 2 landen milik tentara Belanda di tanjung Dama. 1 landen memuat pasukan campuran masyarakat lokal dengan nama regu 153 dibawah pimpinan Sersan Matoke. Sementara landen lainnya memuat pasukan tentara Belanda tanpa campuran regunya diberinama 158. Tentara Belanda saat itu menyerang mereka karena personilnya sempat mengibarkan bendera merah putih disana.
   Karena Belanda turun dengan kekuatan penuh maka pasukan yang dipimpinnya sempat di sekap di Dagasuli. Melalui diplomasi panjang akhirnya mereka dikeluarkan dan menuju ke Tobelo pada tahun 1944 untuk melanjutkan perjuangan menumpas polisi Belanda. Sebab tentaranya sudah dipindahkan ke Morotai bergabung dengan sekutu.
   Untuk peralatan perang seperti senjata api didapat dari 2 teman tentara Amerika di Morotai, keduanya bernama Mr Jhon dan Mr Bab. Senjata yang diberikan puluhan pucuk dengan maksud untuk melawan tentara Jepang yang saat itu mulai masuk menduduki wilayah Tobelo. Senjata yang ada itu tidak dapat dibawa seluruhnya ke Tobelo karena keadaan sehingga yang loos hanya 3 pucuk.
      Di Tobelo perjuangan terus dilakukan pihaknya dengan menggempur markas Polisi Belanda yang saat itu berada di Kompleks Kampung Cina desa Gamsungi. Akhinya di tahun 1949 para pemuda yang dipimpinnya itu berhasil melucuti senjata polisi Belanda, "Tiga pucuk senjata itu satu saya yang pegang, satunya lagi dipegang Muhammad Kambose teman saya dan satunya orang lagi yang pegang senjata namanya sudah lupa," kata dia dengan nada lantang yang merupakan ciri khas seorang Veteran.
   Setelah senjata dikuasai dalam waktu yang tidak lama Tentara Branjangan dari Jawa dibawah pimpinan Kapten Majito datangi Tobelo untuk membantu perjuangan. Kehadiran tentara Branjangan bersamaan dengan isu hadirnya kapal selam di laut desa Kupakupa Kecamatan Tobelo Selatan sekarang.
   Lanjut dia kehadiran tentara Branjangan membantu penumpasan sisa-sisa Polisi Belanda membuat situasi kota Tobelo semakin kondusif. Bahkan situasi itu tetap terjaga hingga NKRI diproklamirkan Soekarno dan Hatta, "Hadirnya tentara Branjangan membuat situasi semakin kondusif hingga sekarang," ujar Yahya yang pada saat selesai masa perjuangan pingin gabung ke pasukan Brimob tapi tidak jadi karena harus memikirkan keluarga yang ada di Tobelo.
   Dihadapan wartawan Yahya juga sempat mengeluarkan peta jaman Belanda yang dibuatnya sendiri. Peta itu dibuat 1997 dengan niat menyerahkannya ke Presiden Soeharto lawat anaknya Bambang Trihatmojo yang berkunjung ke Tobelo dengan urusan bisnis. Kehadiran Bambang beberapa hari di Tobelo kemudian memanggilnya berbincang-bincang.
   "Saya buat peta itu untuk diserahkan ke Presiden lewat anaknya yang datang ke Tobelo. Sebab keberadaan di Tobelo saya sempat dipanggil untuk bincang-bincang," lanjut dia.
   Sementara Mohtar Patti anak Yahya yang juga anggota Lembaga LP3K (Lembaga penyelidikan penatauan pemberabtasan korupsi) mengatakan, pejuang hanya untung nama tidak pernah dihargai oleh pemerintah. Pemerintah hanya membesarkan-besarkan para pahlawan saat digear upacara, "Buktinya ada sebagian Veteran yang rumahnya digusur," ungkap dia.(**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar