Kamis, 10 November 2011

Jasa Para Pejuang Kemerdekaan, Patut Dihargai



 Kamis, 10 November 2011
Sekitar pukul 12.00 siang (WIT), dihari cerah, setelah berapa jam usai kegiatan upacara hari pahlawan yang tepatnya 10 November didepan kantor Bupati Halut Kamis. Wartawan  media ini,  mendatangi pria sederhana yang mengenakan kaos krak kotak putih, celana kain abu-abu, dan mengenakan topi hitam menutupi rambut putih, dia adalah  Yahya Patty 86 tahun ketua pejuang feteran Halmahera Utara yang berlangsung dirumah sederhana yang ia tinggali, tepatnya dijalan Halu Kota Tobelo.
 Pria umur separu abad itu setelah mengetahui kedatangan wartawan, ia lantas  langsung mempersilahkan masuk ke dalam rumah dan persilahkan untuk duduk.”Tunggu ya? saya ambil peta Kota Tobelo masa pemerintah belanda tempeo doloe hasil buatan tangan saya sendiri yang rencana diberikan kepada salah satu petinggi di Jakarta,”ucapnya saat mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartwan lokal.


   Mantan Komendan Badan Keamanan Rakyat (BKR) berpangkat bintang 1 atau Letjen itu menceritakan, pada tahun 1935 mereka habis-habisan melakukan perlawanan terhadap Belanda yang melakukan sebuah pembodohan dengan cara menjajah rakyat di daerah ini.
Meskipun  pernah ditangkap oleh para kompeni Belanda di desa Dagasuli Loloda, walaupun tidak terjadi kontak senjata dengan para kompeni, itu karena keuletan pada kepemimpinannya pada saat itu. ”Saat itu ada yang melaporkan bahwa kompeni belanda sedang berada dipantai. Untung kami tidak kontak senjata, memang saat itu dari 150 anggota kami yang pegang senjata cuman 3 orang,”ceritanya sambil tertawa.
Pada tahun 1949 mereka berhasil mengepung dan menduduki Kota Tobelo dari tangan belanda. Sementara saat itu semua serdadu belanda di evakuasi ke Pulau Morotai.”1949, kami berhasil merebut senjata dan menguasai Kota Tobelo,”kata pria kelahiran 1924. Bahkan untuk merebut kemerdekaan ditangan penjajah, kata dia butuh pengorbanan yang tak terhitung nilainya, karena perjuangan tersebut terlalu sakit.
Namun sayangnya dari hasil perjuangan penuh tetesan darah tersebut demi merebut  kemerdekaan dari tangan penjajah itu, malah kesejahteraan mereka kurang begitu diperhatikan oleh Pemerintah daerah yang telah duduk pada kursi empuk kekuasaan.”Pejuang tanpa meminta pensiun. Tapi pemerintah yang harus beri kami pensiun. Bahkan tadi (Kamis, 10/11), kami hanya diberi intensif sebesar Rp 50 ribu, padahal kalau di ambon hari pahlawan setiap veteran diberi intensif Rp 1 juta dan 2 karung beras pada 3 bulan sekali, ”kata pria beranak 9 tersebut. Karena pensiun pada 1982 ia mengaku bekerja membantu masyarakat yang kesulitan saat memeliki masalah mengenai sengketa tanah.”Saya sering membantu masyarakat saat kesulitan misalnya perkara tanah, saya yang jadi saksi. Olehnya itu saya hanya mengharapkan kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan kesejahteraan pejuang veteran dimana saja ia berada,”harapnya. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar